Ibadah Persekutuan Yayasan PESAT Nabire Soroti Pentingnya Ketulusan Pelayanan
Nabire, Ketua Yayasan PESAT Nabire, Eliezer Edo Odo, mengajak jemaat untuk senantiasa memeriksa motivasi hati dalam menjalankan pelayanan dan melakukan kebaikan. Ia menekankan bahwa ketulusan tidak hanya diukur dari tindakan yang terlihat oleh orang lain, tetapi juga dari alasan yang mendasari setiap perbuatan.
Pesan tersebut disampaikan Eliezer Edo Odo dalam sambutannya pada ibadah persekutuan Yayasan PESAT Nabire yang berlangsung di SMA Anak Panah Nabire, Senin (12/10/2026).
Dalam penyampaiannya, ia mengajak jemaat untuk belajar melakukan introspeksi diri sebelum menilai atau menyalahkan orang lain. Menurutnya, manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan sesama dibandingkan menyadari kelemahan dan motivasi yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri.
Karena itu, setiap orang perlu membangun kebiasaan berdialog dengan diri sendiri untuk mengevaluasi sikap, tindakan, dan tujuan hidupnya.
Ketulusan Hati Menjadi Dasar Pelayanan
Eliezer menekankan bahwa perbuatan baik perlu disertai motivasi yang benar. Seseorang dapat melakukan berbagai kegiatan pelayanan, membantu sesama, dan menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Namun, semua itu perlu disertai ketulusan, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian, penghormatan, atau pengakuan.
Ia mengangkat Filipi 4:5 sebagai salah satu dasar refleksi, khususnya pesan agar kebaikan hati diketahui semua orang.
Menurut pesan yang disampaikan dalam persekutuan tersebut, kebaikan hati tidak cukup hanya tampak melalui tindakan lahiriah. Lebih dari itu, setiap orang perlu memeriksa apakah tindakan yang dilakukan benar-benar lahir dari kasih dan ketulusan.
Pertanyaan penting yang perlu diajukan kepada diri sendiri adalah apakah seseorang tetap bersedia melayani ketika tidak mendapatkan penghargaan, tetap memberi ketika namanya tidak disebutkan, dan tetap menolong ketika orang yang dibantu tidak menunjukkan rasa terima kasih.
Situasi tersebut dapat menjadi ujian untuk melihat apakah pelayanan masih berpusat pada Tuhan atau telah bergeser menjadi sarana mencari pengakuan manusia.
Konflik Tidak Harus Berakhir dengan Pertengkaran
Dalam kehidupan bermasyarakat maupun pelayanan gereja, perbedaan pendapat dan kesalahpahaman merupakan hal yang dapat terjadi. Bahkan, Alkitab mencatat berbagai peristiwa perselisihan di antara orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan Tuhan.
Salah satu contoh yang disoroti adalah nasihat Rasul Paulus kepada Euodia dan Sintikhe dalam Filipi 4:2-3 agar mereka sehati sepikir dalam Tuhan.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa konflik tidak selalu dapat dihindari. Namun, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menyikapinya dengan kedewasaan, kerendahan hati, dan kesediaan memperbaiki hubungan.
Dalam menghadapi perdebatan, seseorang tidak harus selalu berusaha menjadi pihak yang menang. Ada kalanya menahan diri dan memilih jalan damai justru menunjukkan kedewasaan dalam mengelola persoalan.
Prinsip tersebut juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Perselisihan antara suami dan istri, misalnya, dapat semakin membesar ketika masing-masing berusaha membuktikan dirinya paling benar dengan terus mengungkit kesalahan masa lalu.
Karena itu, menjaga hubungan dan mencari penyelesaian yang baik perlu menjadi pertimbangan penting, tanpa mengabaikan kejujuran dan tanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan.
Firman Tuhan Menjadi Pedoman Mengoreksi Diri
Pesan lainnya yang ditekankan dalam ibadah persekutuan tersebut adalah pentingnya menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman untuk memeriksa kehidupan.
Hati nurani dapat membantu seseorang mengevaluasi tindakannya. Namun, penilaian pribadi juga memiliki keterbatasan karena manusia bisa saja membenarkan dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, pembacaan dan perenungan firman Tuhan menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan rohani.
Melalui perenungan tersebut, seseorang diajak untuk tidak hanya memahami ajaran Alkitab, tetapi juga bersedia menerima teguran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran ini sejalan dengan pesan dalam Mazmur 19:13, yang memuat permohonan agar seseorang dibebaskan dari kesalahan yang tidak disadarinya.
Dengan demikian, introspeksi bukan sekadar upaya mencari kekurangan diri, melainkan kesediaan untuk membuka hati terhadap koreksi dan mengalami perubahan.
Waspadai Pelayanan yang Berorientasi pada Pujian
Dalam refleksi berikutnya, perhatian diarahkan pada ajaran Yesus dalam Matius 6 mengenai kewajiban agama yang tidak seharusnya dilakukan hanya untuk mendapatkan perhatian manusia.
Berbuat baik, berdoa, memberi, dan melayani merupakan bagian penting dalam kehidupan orang percaya. Namun, tindakan-tindakan tersebut dapat kehilangan ketulusannya ketika dilakukan terutama demi memperoleh pujian atau penghormatan.
Seseorang yang terbiasa mendapatkan apresiasi mungkin mudah merasa kecewa ketika kontribusinya tidak diakui. Kekecewaan tersebut bahkan dapat membuatnya berhenti melakukan sesuatu yang sebenarnya bermanfaat bagi orang lain.
Karena itu, setiap orang perlu mengevaluasi motivasinya secara berkala.
Pelayanan seharusnya tidak menjadikan pengakuan manusia sebagai tujuan utama. Sebaliknya, pelayanan merupakan wujud kasih, rasa syukur, dan tanggapan atas anugerah Tuhan.
Pesan ini sekaligus mengajak jemaat untuk tidak menjadikan popularitas atau penghargaan sebagai ukuran utama keberhasilan pelayanan.
Mengizinkan Tuhan Membentuk Kehidupan
Eliezer juga mengangkat pentingnya memeriksa hati selagi masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam refleksi yang bersumber dari 1 Korintus 4:5, jemaat diingatkan bahwa Tuhan mengetahui hal-hal tersembunyi yang tidak selalu dapat dilihat manusia.
Kesadaran tersebut seharusnya mendorong setiap orang untuk menjalani kehidupan dengan jujur dan bertanggung jawab.
Proses koreksi diri terkadang tidak nyaman karena seseorang harus mengakui kelemahan, memperbaiki kesalahan, dan meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai firman Tuhan.
Namun, proses tersebut dapat menjadi bagian dari pertumbuhan rohani.
Melalui ibadah persekutuan di SMA Anak Panah Nabire itu, pesan yang disampaikan mengarah pada pentingnya membangun kehidupan yang tidak hanya terlihat baik dari luar, tetapi juga memiliki motivasi yang tulus.
Jemaat diajak untuk terus memeriksa hati, menjaga hubungan dengan sesama, serta memberikan ruang bagi firman Tuhan untuk membentuk sikap dan tindakan sehari-hari.
Pada akhirnya, ketulusan dalam pelayanan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di hadapan banyak orang, tetapi juga ketika ia tetap melakukan kebaikan tanpa pujian dan tetap setia menjalankan tanggung jawab meskipun tidak mendapatkan pengakuan.
(Sam Dimara)




