(Harga Sirih di Nabire Melonjak, Pedagang Pinang Keluhkan Pasokan Langka)

Harga Sirih di Nabire Melonjak, Pedagang Pinang Keluhkan Pasokan Langka

Nabire, Harga sirih di Nabire, Papua Tengah, tengah menjadi perhatian warga, khususnya mama-mama Papua yang menggantungkan pendapatan dari berjualan pinang di kawasan Pasar Oyehe. Ketersediaan sirih yang disebut semakin terbatas membuat biaya untuk melengkapi jualan pinang ikut meningkat.

Sejumlah pedagang mengaku harus membeli sirih dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan keluhan warga dan pedagang, harga sirih disebut berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per kilogram, bahkan dikhawatirkan dapat menembus angka yang lebih tinggi. Angka tersebut merupakan informasi dari warga dan pedagang di lapangan, bukan harga resmi yang telah ditetapkan pemerintah.

Pasokan Sirih Terbatas Saat Cuaca Panas

Kelangkaan tersebut diduga berkaitan dengan kondisi cuaca panas yang membuat tanaman sirih tidak menghasilkan buah secara optimal. Kondisi serupa terutama dirasakan pada tanaman yang berada di wilayah perkotaan.
Meski demikian, warga menyebut masih terdapat sejumlah tanaman sirih di kawasan pinggiran Nabire yang mampu menghasilkan buah. Pasokan yang terbatas inilah yang kemudian disebut menjadi salah satu faktor meningkatnya harga di tingkat penjual.
Bagi pedagang pinang, kenaikan harga sirih menjadi persoalan tersendiri. Sirih merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi makan pinang masyarakat Papua, bersama pinang dan kapur.
Seorang pedagang di Pasar Oyehe mengatakan mahalnya sirih membuat mereka berada dalam posisi sulit. Biasanya, beberapa buah pinang dijual bersama sirih sebagai satu paket. Namun, ketika harga sirih meningkat, keuntungan pedagang menjadi semakin kecil.
“Kalau kami beli sirih mahal, mau jual pinang murah juga susah. Kalau harga dinaikkan, pembeli juga keberatan,” keluh seorang pedagang.

Warga Soroti Harga di Pasar

Selain pedagang, konsumen juga mengeluhkan kondisi tersebut. Warga berharap harga komoditas yang dijual di pasar dapat memperoleh perhatian dan pengawasan, terutama ketika terjadi kenaikan harga yang cukup besar.
Seorang warga menilai pasar merupakan tempat yang memungkinkan dilakukan pemantauan harga sekaligus penyampaian informasi kepada masyarakat. Warga juga meminta para pedagang mempertimbangkan kondisi konsumen agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
“Jangan memanfaatkan keadaan. Sirih ini berasal dari pohon, bukan barang dari pabrik,” ujar seorang warga.

Tradisi Makan Pinang dan Kondisi Ekonomi Warga

Makan pinang telah menjadi bagian dari kebiasaan dan tradisi masyarakat Papua yang diwariskan lintas generasi. Namun, kenaikan harga bahan pelengkap membuat sebagian warga mulai mempertimbangkan kembali pengeluaran untuk kebutuhan tersebut.
Warga lainnya menyarankan agar masyarakat sementara mengurangi konsumsi pinang selama pasokan sirih masih terbatas. Menurutnya, uang yang biasanya digunakan untuk membeli pinang dan sirih dapat dialihkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan pangan serta keperluan rumah tangga.
Hingga kini, warga berharap kondisi cuaca kembali mendukung pertumbuhan tanaman sirih sehingga pasokan dapat meningkat dan harga kembali lebih terjangkau. Pemantauan terhadap harga dan ketersediaan sirih di pasar juga dinilai penting agar pedagang maupun konsumen tidak semakin terbebani.

(Sam Dimara)

Tinggalkan Balasan