Tokoh Agama di Nabire Ingatkan Bahaya Perselingkuhan: Anak-Anak Jadi Korban Pertama

Nabire, 11 Maret 2026 – Perselingkuhan disebut sebagai salah satu persoalan serius yang merusak kehidupan rumah tangga dan berdampak luas bagi keluarga, terutama anak-anak. Hal ini disampaikan oleh seorang tokoh agama yang juga merupakan tokoh di lingkungan pemerintahan saat memberikan pesan moral di tempat kerjanya, Rabu siang sekitar pukul 11.00 WIT.

Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa sebagai orang beriman, setiap individu harus mematuhi pedoman hidup yang tertulis dalam kitab suci. Dalam ajaran agama Kristen, perselingkuhan secara tegas dilarang karena dianggap sebagai bentuk perzinahan yang terselubung.
Menurutnya, ketika seseorang menikah dengan pasangannya, mereka telah mengucapkan sumpah untuk setia dalam kondisi apa pun, baik dalam keadaan senang maupun susah.
“Pernikahan itu bukan hanya ketika keadaan baik-baik saja. Saat seseorang menikah, ia telah berjanji untuk menerima pasangannya dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pernikahan tidak boleh didasarkan pada materi atau kondisi ekonomi semata. Ketika keterbukaan dalam rumah tangga tidak terjaga dan gengsi lebih diutamakan, konflik dalam keluarga bisa muncul dan membuka peluang terjadinya perselingkuhan.
Seorang hamba Tuhan juga mengingatkan bahwa kesetiaan dalam pernikahan harus diuji dalam berbagai situasi, termasuk ketika pasangan mengalami kesulitan ekonomi atau masalah kehidupan.
“Jangan hanya mencintai pasangan ketika sedang sehat, punya uang, atau berada dalam kondisi baik. Saat pasangan mengalami kesulitan, kita tetap harus menghormati dan mendukungnya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap berbagai modus yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga orang lain. Dalam sebuah ilustrasi yang disampaikannya, diceritakan tentang seorang pria yang mencoba mencari peluang usaha melalui sebuah proyek. Namun proyek tersebut justru bermasalah dan menyebabkan tekanan dalam keluarga.
Dalam kondisi tersebut, muncul pihak lain yang mencoba memanfaatkan situasi dengan mendekati sang istri, sehingga memicu konflik dalam rumah tangga.
Menurutnya, kondisi seperti ini sering menjadi celah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak hubungan keluarga, terutama ketika pasangan tidak siap menerima kekurangan satu sama lain.
“Kadang masalah sebenarnya masih bisa diselesaikan, tetapi karena gengsi dan kurangnya komunikasi, akhirnya rumah tangga menjadi retak,” jelasnya.
Di akhir pesannya, tokoh agama tersebut mengingatkan kepada para pekerja, baik di perusahaan maupun di lingkungan kerja mana pun, agar tidak mencampuri atau mengganggu rumah tangga orang lain.
Ia menegaskan bahwa perselingkuhan tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri, tetapi juga meninggalkan luka psikologis bagi anak-anak dan keluarga besar.
“Anak-anak sering menjadi korban pertama secara psikologis. Karena itu, kita harus menjaga nilai moral dan menghormati rumah tangga orang lain,” pesannya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap orang-orang yang mungkin bersembunyi di balik status sosial atau bahkan agama untuk melakukan tindakan yang dapat merusak keluarga orang lain.

Tinggalkan Balasan