Harga Beras Industri di Nabire Melonjak, Warga Mengeluh

Nabire, 22 Juli 2025 – Harga sembako, terutama beras industri, di Kabupaten Nabire menjadi sorotan masyarakat. Warga mengeluhkan mahalnya harga beras dengan berbagai merek yang dijual di pasaran dalam kemasan 10 kg, 20 kg, hingga 40 kg. Ketiadaan beras Bulog di pasaran membuat warga tidak mampu semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.

Salah seorang ketua RT di Kelurahan Nabarua menyampaikan keluhan warganya kepada media. Ia mengatakan bahwa warga mempertanyakan mengapa beras Bulog yang biasanya dijual dengan harga terjangkau tidak tersedia di pasar. Sementara itu, beras industri yang beredar memiliki harga tinggi, yang sulit dijangkau oleh warga berpenghasilan rendah.
“Kalau orang mampu mungkin masih bisa beli. Tapi untuk warga tidak mampu, bisa-bisa hanya makan kalau ada uang. Banyak juga warga yang tidak dapat bantuan seperti subsidi dana dari kantor pos,” ujar ketua RT tersebut.
Ia menegaskan bahwa keluhan tersebut tidak berkaitan dengan politik, melainkan murni dari apa yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
Terkait keluhan ini, seorang tokoh politik yang enggan disebutkan namanya mendesak Dinas Perdagangan Kabupaten Nabire agar memperketat pengawasan harga barang pokok. Ia menilai perlu adanya tindakan tegas agar pedagang tidak mengambil keuntungan terlalu besar.
“Pengawasan antara agen dan pengecer di kios-kios pinggiran kota maupun wilayah kepulauan juga penting agar harga tetap stabil dan terjangkau,” katanya.
Pihak Dinas Perdagangan Kabupaten Nabire ketika dikonfirmasi menyatakan akan segera turun ke lapangan bersama bidang terkait untuk memantau perkembangan harga sembako, termasuk pengecekan tera dan distribusi BBM bersubsidi.
“Kami banyak menerima pengaduan dari masyarakat. Memang ada kendala biaya operasional, tapi kami tetap akan turun lapangan dalam waktu dekat, termasuk ke kawasan bandara dan kios-kios sekitar,” ujar Kepala Bidang terkait.
Situasi ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan distribusi bantuan pangan, pengawasan harga, dan aksesibilitas barang kebutuhan pokok, khususnya bagi masyarakat ekonomi lemah di Kabupaten Nabire.

Tinggalkan Balasan