Tokoh Agama di Papua Tegas Tolak Peredaran Miras yang Dinilai Merusak Generasi Muda
Nabire, 18 November 2025 – Sejumlah tokoh agama di Tanah Papua kembali menyatakan penolakan tegas terhadap peredaran minuman keras (miras) yang dinilai menjadi salah satu penyebab kerusakan generasi muda Papua. Mereka menilai miras telah merusak kesehatan, memicu tindak kejahatan, dan mengancam masa depan anak-anak Papua, baik Orang Asli Papua (OAP), peranakan maupun pendatang.
Para tokoh agama menegaskan bahwa generasi muda Papua merupakan penentu masa depan keluarga dan daerah. Karena itu, mereka harus dilindungi dari berbagai ancaman, termasuk dampak negatif miras yang semakin mengkhawatirkan.
Miras disebut sebagai salah satu pencetus masalah sosial di Papua. Berdasarkan pengamatan tokoh agama, konsumsi miras kerap memicu tindakan kriminal, pelanggaran norma, hingga perilaku berisiko yang berdampak pada meningkatnya kasus HIV/AIDS. Kabupaten Nabire bahkan tercatat sebagai salah satu daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Papua.
Seorang pengusaha yang dikonfirmasi media ini mengklaim bahwa miras resmi tidak menjadi masalah, dan justru miras oplosan atau ilegal yang kerap menimbulkan dampak buruk. Namun pernyataan tersebut dipertanyakan oleh masyarakat, karena mereka menilai peredaran miras—baik resmi maupun ilegal—tetap memberi kontribusi besar terhadap masalah sosial di Papua.
Warga juga mengungkap adanya dugaan oknum tertentu yang membekingi bisnis miras sehingga membuat para pelaku usaha merasa aman dan bebas menjual miras tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat.
Selain itu, beberapa warga menyoroti bahwa kritik-kritik terhadap miras, penambangan liar, dan perusakan hutan sering dialihkan dengan isu-isu lain agar perhatian publik terpecah. Mereka meminta para pengusaha untuk turut menjaga zona damai di Papua dan tidak menjalankan usaha yang merugikan masyarakat.






